Bencana Seblak!

Namanya juga PMS, hormon lagi sensitif sensitifnya. Itu lho kondisi dimana wanita suka uring-uringan ga jelas, terkadang merasa desperate, dan nafsu makan membabi buta. Ngomong-ngomong soal nafsu makan, setiap kali aku memasuki zona PMS i always craving for something spicy! Nah bulan ini pengennya lebih spesifik, yaitu seblak super pedas. Dari minggu kemarin seblak menjadi jajanan wajib. Rela jalan dan naik turun jembatan penyebrangan dari Embong Gayam ke Kaliasin. Emang sengaja sih dibikin jalan, itung- itung bakar kalori lima butir makroni yang melenggang di dalam seblak berbungkus styrofoam itu.

Singkat cerita hampir tiap hari aku beli seblak akhir-akhir ini. Sampe malu sendiri sama aa’ aa’ tukang seblak yang diimpor langsung dari Bandung. Habis aku takut kalo aa’nya ke-GR-an, dikiranya aku naksir sama mereka. (Oh Plis!) Jadinya aku memberanikan diri untuk minta tolong mama buat belanja kerupuk, makaroni dan sayur sebagai bahan utama seblak.

Rencana awal sih bikin pas weekend kemarin mumpung aku libur, tapi ga jadi gegara toko sembako deket rumah pada tutup. Akhirnya baru sempet masak pagi ini. Sumpah nervous abis. Deg-deg serr kaya pas mau sidang skripsi kemarin T_T. Deg-degannya karena cuma berbekal resep sederhana dari temen SD ku yang asli Tasikmalaya, kata dia bumbunya cuma bawang merah, bawang putih dan ibu tiri. BUKAAAN! Bukan ibu tiri, tapi kencur rek! Aku ga tau bahasa kerennya apa, pokonya googling aja kalo kamu gak tau.

Oke, bahan-bahan seperti kerupuk, makaroni, telur, sayur sudah siap. Untuk bumbu, satu siung bawang putih, tiga butir bawang merah ukuran sedang, dan cabe segenggam kali ada. Ceritanya belagu, dipikir cabe 5 ga pedes apa ya? Karena blender dan juicer lagi rusak, alhasil step pertama adalah ngulek pemirsah. Sambil setengah melek, kukerahkan seluruh energiku untuk ngulek bahan-bahan tersebut di atas. Wait, did i miss something? Kencuurrr!! Bau kencur lu! Eh, Kencur dimana kamu? Setelah ngublek-ngublek wadah perbumbuan, dengan PD nya nemu dan kukupas lah kencur seukuran ujung jempolku. Hampir diulek, ada sesuatu yang janggal. Akhirnya aku menghampiri mama ke depan. Negitu ketemu, mama cuma nanya “Udah tau kencurnya yang mana?” lalu kujawab dengan santai dan penuh percaya diri “Sampun” (Sudah;Read). Ketika dicek, “Iki Jahe nduuk” aku kaget, gelagapan. Perasaan sudah aku cium cium masih bau kencur tuh, kog bisa jahe. Astaga, apakah panca inderaku masih belum aktif? Hhaha

Bumbu halus sudah siap dioseng dengan sedikit minyak goreng. Masuklah air, tunggu sampai panas kemudian kutuang segenggam kerupuk dan sebungkus makaroni keriting. Kuaduk-aduklah dengan penuh perasaan. Lama. Deg-degan. Sambil nunggu kerupuknya lumer, ku cuci sayur pokchoi sampai bersih kemudian aku potong-potong dan meniriskannya di atas telenan.

Ga sabar, belum matang sudah incip-incip. Ahh kurang berasa. Masuklah royco dan MSG hahahah (Hidup generasi micin!). Ini sungguhan, indera pengecapku belum aktif bener. Ga berasa apa-apa. Akhirnya masuklah telur, dan juga sayur. Waakk.. kerupuk dan makaroninya masih setengah matang. PANIK LUAR BIASA. Mama cuma nyuruh buat biarin aja.. Beberapa menit kemudian, jadi bubur. Kurang air. Panik lagi. Incip lagi. Ga berasa, ya Tuhaan apa salahku? Akhirnya air panas dispenser dan sedikit garam menyelamatkanku. Kebetulan mama lagi masak ceker ayam, kugondol aja sepasang ceker ayam itu untuk menjadi topping seblakku. Setelah menunggu beberapa menit, masih belum matang juga dan kuahnya juga sudah menguap ke langit-langit dapur. Berdasarkan supervisi dari kanjeng mami, aku cuma disuruh mattin kompor dan menutup wajan seblaknya dengan penutup lalu membiarkannya. Baiklah, aku menyerah. Karepmu blak seblak!

Beberapa menit berlalu, kubuka penutup wajan dengan perasaan gundah gulana. ALhamdulillah matang, tapi kuahnya hilang entah kemana. Dari belakang mama cuma bilang “bubur seblak hahah” dan kamipun tertawa geli. Maklum, karena dari kami tak ada yang pernah masak seblak. Apalagi mama baru tau seblak kemarin setelah kubelikan contohnya di aa’ aa’ seblak langgananku.

This is it! Homemade seblak pertama buatanku. It was such tears of joy.

DSC_2435
Sorry for the bad plating, will make it better next time!

Begitu kusendok, ternyata rasanya mirip! Bahkan lebih enak, mungkin karena sugesti buatan sendiri jadi ngejudge-nya campur narsis hahaha. Jangan ditanya pedesnya, PEDESSS abisss… Kemudian menyesal kerena siangnya sakit perut melandaku. Oh bencana seblak, terima kasih sudah menorehkan cerita di kehidupanku hari ini.

TIPS:

  • Siapkan bahan-bahan dan bumbunya serapi mungkin untuk mengurangi kebingungan yang terjadi pada setiap pemula
  • Karena kerupuk / makaroni menyerap air, sediakan air yang lumayan banyak ya
  • Kunci memasak apapun pada dasarnya adalah sabar. Maklum, yang masak ini tadi orangnya ga sabaran :p
  • Jangan takut salah dan berinovasi

RESEP:

Bumbu

  1. 1 siung bawang putih
  2. 2 siung bawah merah
  3. Kencur secukupnya
  4. 1 sdt garam
  5. Cabai / merica jika suka
  6. Bumbu penyedap / MSG jika suka

Bahan

  1. Kerupuk mentah
  2. makaroni / sosis/ bakso (tergantung selera)
  3. sayur
  4. telur
  5. 1 gelas air
  6. Topping ceker ayam atau tergantung selera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: